Radius: Off
Radius:
km Set radius for geolocation
Search

Ketika Serat Rosella Harus Berganti

Ketika Serat Rosella Harus Berganti

Ketika Serat Rosella Harus Berganti

Berani berubah membuat kita tetap bertahan di tengah persaingan, dan bisa terus mengikuti putaran zaman.

Tak ada yang abadi dalam kehidupan ini, kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan demi perubahan telah terjadi dan kemudian tercatat sebagai dinamika kehidupan. Di antaranya telah menjadi puing,  dan sebagian lagi tetap berdiri menjadi legenda. Bukan tonggak lama, tetapi tonggak yang telah berganti menjadi lebih muda.

Zaman telah mencatat  banyak peristiwa dan perubahan. Ada sebuah pemeo inspiratif; yesterday isi history, tomorrow is a hope and mysteri, and today is a gift. That’s why it’s called present. Sejarah adalah, bukan untuk menguak luka lama, hanya untuk belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu.

Apa yang bisa diperoleh dari masa lalu? Selain kenangan, masa lalu bisa menjadi cermin bagi kita untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi. Masa lalu, mungkin bagi sebagian orang adalah bagian yang sudah usang dan sudah sepantasnya dilupakan. Tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu. Masa lalu bisa menjadi inspirasi, dorongan semangat, serta titik balik untuk memberi lebih baik.

Seperti yang pernah dituliskan Jean-Paul Sartre dalam essainya “Menulis untuk Zamannya Sendiri’, zaman adalah inter-subjektivitas, kemutiakan yang hidup. Zaman melahirkan dengan susah payah berbagai kejadian dan peristiwa yang kemudian diberi nama oleh para ahli sejarah. Sejarah dirangkai dari zaman-zaman yang telah mati. Sejarah dengan berbagai kejadian di masa lampau, bisa menjadi fenomena untuk pengembangan masa depan. Sejarah menulis dirinya sendiri.

Mengikuti perjalanan PT. Dasaplast  Nusantara, kita seaskan menikmati sebuah perjalanan panjang yang penuh hikmah. Sejarah perubahan dari waktu ke waktu, yang terkemas berikut pasang surutnya. Semua kisah itu terangkai hingga kita bisa memetik intisari dan inspirasi di baliknya.

Dasaplast Nusantara bukanlah perusahaan yang benar-benar baru. Perusahaan ini adalah buah dari sebuah dari perusahaan. Pergerakan positif yang dilakukan membuat perubahan-perubahan yang dilakukan dapat berlangsung dengan mulus tanpa guncangan.

Perjalanan PT. Dasaplast Nusantara bermula dari sebuah pabrik gula Petjangaan yang berdiri tahun 1890. Di awal-awal berdiri, pabrik gula ini termasuk salah satu pabrik gula yang sangat dikenal di Jawa Tengah. Pabrik gula ini berjalan perlahan dari waktu ke waktu, hingga akhirnya menemui banyak hambatan seiring dengan berbagai perubahan.

Secara perlahan-lahan pabrik gula ini mengalami kemunduran, tak berdaya, lalu mengalami kerugian. Api yang dulu bersinar terang di lingkungan sekelilingnya, berangsur meredup bak kehabisan bahan bakar. Karena dianggap kurang produktif, pabrik gula tersebut akhirnya ditutup tahun 1934. Kondidi pabrik kemudian kosong tanpa aktivitas dan berubah berubah menjadi sepi tanpa penghuni. Dan di zaman Jepang, sekitar tahun 1944-1945, mesin-mesin yang terpasang dipabrik ini dibongkat dan diangkut untuk proyek lain.

Ketika Serat Rosella Harus Berganti (1)

Antara Pabrik Gula dan Karung Goni

Dengan ditutupnya pabrik gula Pecangaan, membuat banyak bangunan dan gudangnya tidak terpakai. Tak lama kemudian bangunan dan gudang kosong ini dialihgunakan sebagai ondemaming (tempat penyimpanan) tembakau. Tetapi proses ini pun tidak bertahan lama. Hanya bertahan beberapa tahun saja, hingga akhirnya likasi i ni kosong kembali.

Perubahan berikutnya terjadi. Karena ondemaming tembakau tidak mampu bertahan, akhirnya oleh kantor pemerintah saat itu, ondermaming tembakau Pecangaan dirubah lagi menjadi ondermaming rosella. Waktu itu rosella menjadi tanaman baru yang menjanjikan. Seratnya bisa menjadi bahan baku utama karung goni yang banyak dibutuhkan. Kebun-kebun percobaan pun banyak digalakkna di berbagai daerah. Begitu juga di daerah Jepara. Di Kabupaten seluas 1.004,16 km² ini, hampir di setiap lahan ditanami dengan rosella. Dalam perjalanannya, ujicoba ini dianggap berhasil. Hasil yang diperoleh dari segi kualitas maupun kuantitas serat cukup baik. Dan perkebunan rosella pun semakin meluas di wilayah dengan motto: Trus Karya Tataning Bumi (terus bekerja keras membangun daerah) ini. Penanaman rosella diteruskan, perkebunan diperluas untuk mencukupi kebutuhan bahan baku pabrik karung goni.

Bagian 1

Ketika Serat Rosella Harus Berganti

 

Berani berubah membuat kita tetap bertahan di tengah persaingan, dan bisa terus mengikuti putaran zaman.

TAK ADA yang abadi dalam kehidupan ini, kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan demi perubahan telah terjadi dan kemudian tercatat sebagai dinamika kehidupan. Di antaranya telah menjadi puing, dan sebagian lagi tetap berdiri menjadi legenda. Bukan tonggak lama, tetapi tonggak yang telah berganti menjadi lebih muda.

Zaman telah mencatat banyak peristiwa dan perubahan. Ada sebuah pemeo inspiratif: yesterday is history, tomorrow is a hope and mystery, and today is a gift. That’s why it’s called present. Sejarah adalah sejarah, bukan untuk menguak luka lama, hanya untuk belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu.

Apa yang bisa diperoleh dari masa lalu? Selain kenangan, masa lalu bisa menjadi cermin bagi kita untuk melihat perubahanperubahan yang terjadi. Masa lalu, mungkin bagi sebagian orang adalah bagian yang sudah usang dan sudah sepantasnya dilupakan. Tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu. Masa lalu bisa menjadi inspirasi, dorongan semangat, serta titik balik untuk menjadi lebih baik.

Seperti yang pernah dituliskan Jean-Paul Sartre dalam esainya “Menulis untuk Zamannya Sendiri”, zaman adalah intersubjektivitas, kemutlakan yang hidup. Zaman melahirkan dengan susah payah berbagai kejadian dan peristiwa yang kemudian diberi nama oleh para ahli sejarah. Sejarah dirangkai dari zaman-zaman yang telah mati. Sejarah dengan berbagai kejadian di masa lampau, bisa menjadi fenomena untuk perkembangan masa depan. Sejarah menulis dirinya sendiri.

Mengikuti perjalanan sejarah PT. Dasaplast Nusantara, kita seakan menikmati sebuah perjalanan panjang yang penuh hikmah. Sejarah perubahan dari waktu ke waktu, yang terkemas berikut pasang-surutnya. Semua kisah itu terangkai hingga kita bisa memetik intisari dan inspirasi di baliknya.

Dasaplast Nusantara bukanlah perusahaan yang benarbenar baru. Perusahaan ini adalah buah dari sebuah perubahan. Pergerakan positif yang dilakukan membuat perubahan-perubahan yang dilakukan dapat berlangsung dengan mulus tanpa guncangan.

Perjalanan PT. Dasaplast Nusantara bermula dari sebuah pabrik gula Petjangaan yang berdiri tahun 1890. Di awal-awal berdiri, pabrik gula ini termasuk salah satu pabrik gula yang sangat dikenal di Jawa Tengah. Pabrik gula ini berjalan perlahan dari waktu ke waktu, hingga akhirnya menemui banyak hambatan seiring dengan berbagai perubahan.

Secara perlahan-lahan pabrik gula ini mengalami kemunduran, tak berdaya, lalu mengalami kerugian. Api yang dulu bersinar terang di lingkungan sekelilingnya, berangsur meredup bak kehabisan bahan bakar. Karena dianggap kurang produktif, pabrik gula tersebut akhirnya ditutup tahun 1934. Kondisi pabrik kemudian kosong tanpa aktivitas. Kemegahan masa lalu luntur dan berubah menjadi daerah sepi tanpa penghuni. Dan di zaman Jepang, sekitar tahun 1944-1945, mesin-mesin yang terpasang dipabrik ini dibongkar dan diangkut untuk proyek lain.

Antara Pabrik Gula dan Karung Goni

Dengan ditutupnya pabrik gula Pecangaan, membuat banyak bangunan dan gudangnya tidak terpakai. Tak lama kemudian bangunan dan gudang kosong ini dialihgunakan sebagai ondernaming (tempat penyimpanan) tembakau. Tetapi proses inipun tidak bertahan lama. Hanya bertahan beberapa tahun saja, hingga akhirnya lokasi ini kosong kembali.

Perubahan berikutnya terjadi. Karena ondernaming tembakau tidak mampu bertahan, akhirnya oleh kantor pemerintah saat itu, ondernaming tembakau Pecangaan diubah lagi menjadi ondernaming rosella. Waktu itu, rosella menjadi tanaman baru yang menjanjikan. Seratnya bisa menjadi bahan baku utama karung goni yang banyak dibutuhkan. Kebun-kebun percobaan pun banyak digalakkan di berbagai daerah. Begitu juga di daerah Jepara. Di kabupaten seluas 1.004,16 km2 ini, hampir di setiap lahan ditanami dengan rosella. Dalam perjalanannya, ujicoba ini dianggap berhasil. Hasil yang diperoleh dari segi kualitas maupun kuantitas serat cukup baik. Dan perkebunan rosella pun semakin meluas di wilayah dengan motto: Trus Karya Tataning Bumi (terus bekerja keras membangun daerah) ini. Penanaman rosella diteruskan, perkebunan diperluas untuk mencukupi kebutuhan bahan baku pabrik karung goni.

Sedikit mengenal tanaman rosella, tanaman ini menjadi alternatif karena dapat tumbuh di segala macam tanah. Tanaman ini juga sanggup tumbuh di lahan pasir tanpa harus disiram atau diberi pupuk secara intensif. Tanaman rosella merupakan famili Malvaceae, beranggotakan lebih dari 200 genus. Selain rosella, baik rosella berkelopak bunga kuning (sebagai bahan dasar serat) maupun rosella berkelopak bunga merah (sebagai bahan dasar obat-obatan), anggota famili ini antara lain adalah bunga kembang sepatu, kenaf, jute dan masih banyak lagi.

Tanaman ini hanya mengalami satu kali masa produktif, untuk mengoptimalkan hasil panen rosella biasanya ditanam secara khusus tanpa diselingi tanaman lain. Dewasa ini tanaman rosella telah tersebar di seluruh pelosok dunia yang beriklim panas dan hanya akan menghasilkan kelopak bunga di musim kemarau.

Di Indonesia nama rosella sudah dikenal sejak tahun 1922. Tanaman ini tumbuh subur di sepanjang lintasan kereta api Indramayu, Jawa Barat, terutama di musim hujan terlihat hamparan kelopak bunga kuning dan merah rosella yang bermekaran. Bunga rosella memiliki keindahan biasanya dipakai sebagai tanaman hias taman luar ruangan, tanaman pagar, tanaman hias dalam ruangan berupa rangkaian bunga.

Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai tanaman hias yang tak dihiraukan, sekarang tanaman ini dikenal dengan banyak khasiat yang bermanfaat bagi manusia. Tanaman ini memiliki dua varietas dengan budidaya dan manfaat yang berbeda. Rosella berkelopak bunga kuning (Hibiscus sabdariffa var. Altisima), yang diambil serat batangnya sebagai bahan baku pulp dan karung goni; dan rosella berkelopak bunga merah (Hibiscus sabdariffa var. Sabdariffa), yang kini mulai diminati untuk diambil kelopak bunga dan bijinya sebagai tanaman herbal dan bahan baku minuman kesehatan.

Kembali ke Pecangaan. Hingga akhir tahun 1965, Pecangaan merupakan perkebunan rosella dari Perusahaan Negara (PN) Karung Goni Delanggu sebagai buiten afdelling dari pabrik tersebut. Perkembangan selanjutnya, karung goni seakan menemukan masa keemasannya. Jumlah kebutuhannya terus meningkat. Pabrik karung goni Delenggu yang sebelumnya menjadi tumpuan utama tidak mampu memenuhi permintaan yang melimpah. Dengan berbagai pertimbangan, maka diputuskan akan didirikan pabrik karung baru, pabrik karung goni Pecangaan.

Pendirian pabrik ini didasarkan pada surat keputusan No. 708/SKK/65 pada tanggal 30 Desember 1965. Setelah itu dibentuklah tim pembangunan proyek karung goni Pecangaan yang bekerja mulai 1 Januari 1966. Pembangunan yang langsung behubungan dengan produksi dapat selesai seluruhnya akhir 1967. Sesuai dengan rencana yang ditentukan, 15 januari 1968 telah dapat dilakukan trial operation (percobaan jalan) tanpa muatan/ beban. Dari rencana semula selama tiga minggu, dapat diperpendek menjadi dua minggu. Perjalanan selanjutnya adalah dilakukan trial run dengan muatan, 24 Januari 1968, dan dapat berjalan dengan lancar. Pabrik karung Pecangaan ini kemudian diresmikan tanggal 10 Mei 1968. Hasil produksinya, sejak trial run sampai tanggal 4 Mei 1969 telah menghasilkan karung goni sebanyak 70.727 lembar.

Di tahun 1991, pabrik karung goni Pecangaan di bawah kendali PTPN XVII, melakukan perampingan sumber daya manusia untuk tetap bisa beroperasi dengan baik. Namun kondisi tidak banyak berubah hingga akhirnya diambil alih oleh PTPN XXIVXXV. Setahun kemudian, PTPN XXIV-XXV diambil alih oleh PTPN XXI-XXII, dan pabrik karung goni Pecangaan dioperasikan oleh PTPN XXI-XXII. Sementara PTP XVII yang berada dalam status idle kemudian dilikuidasi.

PT Perkebunan Nusantara X (Persero) merupakan peleburan dari PT Perkebunan XIX (Persero), PT Perkebunan XXI – XXII (Persero) dan PT Perkebunan XXVII (Persero) yang di dirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 15 tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996 tentang pengalihan bentuk Badan Usaha Milik Negara dari PT Perkebunan (Persero) dan tertuang dalam Akte Notaris Harun Kamil SH No 43 tanggal 11 Maret 1996.

PT Perkebunana Nusantara X (Persero) mempunyai tiga Unit Usaha Strategis dan Unit Usaha lain yaitu:

  1. Unit Usaha Strategis Gula, terdiri dari 17 pabrik gula yang berlokasi di Jawa Timur, yang memproduksi gula dan tetes.
  2. Unit Usaha Tembakau, terdiri dari 3 (tiga) kebun yaitu satu kebun berlokasi di Klaten Jawa Tengah dan dua kebun berlokasi di Jember Jawa Timur.
  3. Unit Usaha Rumah Sakit, terdiri dari tiga rumahsakit type B yang berlokasi di Jawa Timur. 4. Pabrik Karung Goni Petjangaan yang berlokasi di Jepara, Jawa Tengah memproduksi karung goni, kain goni, dan tali goni. Produksi karung goni tersebut sebagian besar di gunakan untuk memenuhi kebutuhan PTPN X.
  4. Bobin Factory, merupakan unit usaha jasa pemotongan daun tembakau menjadi pembungkus cerutu, berlokasi di Jember Jawa Timur. Unit Usaha ini di lakukan kerja sama dengan Burger Soehne Ag Burg (BSB) Swiss dimana pada tahun 2002 telah di bangun pabrik baru untuk mengembangkan kapasitas.

Wacana Spin-off Sejak 1997

Di awal tahun 1990-an, produksi karung goni Pecangaan tergolong masih bagus. Dari catatan yang ada, di bulan Agustus 1992, produksi masih bisa menyentuh angka 9.000 lembar per hari. Tetapi di tahun 1996, jumlah permintaan terus menurun, karena hanya melayani pabrik-pabrik gula yang kecil-kecil. Di tahun 1997 mulai dipikirkan untuk pindah ke karung plastik. Pemikiran-pemikiran ini mulai muncul diikuti dengan diskusi-diskusi pimpinan tentang rencana perpindahan produk ini.

Memasuki tahun 1999, episode perubahan tahun terakhir ini sudah tidak dapat bersaing baru terjadi. Kenyataan di lapangan menyebutkan bahwa pembungkus produk yang bersifat curah seperti beras, gula, dan kacang-kacangan mengalami peralihan dari karung goni ke karung plastik (glangsing). Ada beberapa alasan yang membuat pasar beralih dari karung goni ke karung plastik. Di antaranya adalah harga karung plastik lebih murah dibanding dengan karung goni, daya tahan terhadap air dan tidak menimbulkan bau pada produk yang dikemas. Adanya peralihan dari karung goni ke karung plastik menyebabkan permintaan karung goni menurun tajam. Efek selanjutnya, pabrik karung membatasi volume produksi sehingga harga pokok produksi per satuan produk menjadi sangat tinggi. Dengan kondisi seperti itu, pamor pabrik karung goni terus meredup. Penjualan pun menurun tajam.

Dari tahun ke tahun berikutnya, usaha kantung besar ini, berada pada titik nadir. Kejayaan kantung dari serat alam ini yang didukung Program ISKARA (Intensifikasi Serat Karung Rakyat) sejak tahun 1978 dalam 10 tahun terakhirini sudah tidak dapat bersaing  dengan serat impor dari negara Bangladesh, China dan India, serta adanya karung plastik yang berharga jauh lebih murah. Hingga awal tahun 2000, tercatat tiga pabrik karung karung yang masih beroperasi yaitu PK. Rosella Baru di Surabaya (PTPN XI), PK. Pecangaan di Jepara (PTPN X) dan PT. Indonesia Nihon Seima (PT INS), membutuhkan serat 50.000 ton/tahun. Dari kebutuhan tersebut 65 % masih impor, sisanya dipenuhi dari dalam negeri. Kondisi ini menjadikan masa depan agribisnis perserat karungan sangat berat dalam menghadapi persaingan global, apalagi harga karung goni impor lebih murah perlembarnya.

Dengan permintaan pasar yang terus menurun, membuat jumlah petani rosella pun kian menyusut. Jumlah lahan yang dulu menghampar luas, secara perlahan beralih fungsi. Banyak di antaranya yang berubah menjadi sawah atau kebun tebu. Suplai serat rosella pun semakin langka. Menjelang akhir tahun 2000, akibat kekurangan bahan baku, enam pabrik karung goni di Indonesia gulung tikar. Pabrik karung goni yang masih bisa bertahan hingga sekarang hanyalah pabrik Pecangaan di Jepara dan pabrik Rosella Baru di Surabaya. Itu pun dengan kemampuan produksi hanya 35 persen dari kapasitas normal.

Dalam temu wicara sosialisasi intensifikasi serat karung rakyat di Jepara, (10/8/2000) terungkap daya saing karung goni semakin terhimpit. Selain dihadiri petani rosella atau kenaf yang merupakan bahan baku karung goni, acara ini juga dihadiri Gubernur Jateng Mardiyanto, Bupati Jepara Soenarto, dan Direksi PT Perkebunan Nusantara X.

Dalam kondisi normal, pabrik karung Pecangaan membutuhkan areal tanaman rosella 2.500 – 3.000 hektar/ tahun yang diperhitungkan mampu menghasilkan 3.500 ton serat rosella. Namun, karena sempitnya areal tanaman rosella, pasokan bahan baku hanya sekitar 1.200 ton/ tahun sehingga setelah diolah hanya menghasilkan sekitar 990.000 lembar karung.

Menurut Bupati Jepara waktu itu, Soenarto, para petani enggan menanam rosella karena harganya fluktuatif dan tidak ada jaminan hasil tanaman mereka bisa ditampung pabrik. Akibatnya petani rosella di Kecamatan Welahan, Mayong, Bangsri, dan Kecamatan Keling yang sebelumnya merupakan Sentra tanaman rosella, beralih menjadi perajin mebel ukir.

Sementara itu, menurut sejumlah petani dari Kabupaten Pati, Grobogan, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali, menanam rosella sebenarnya lebih menguntungkan dibandingkan menanam padi atau palawija, asalkan petani mendapat fasilitas kredit pupuk dan pestisida dari PTP Nusantara X.

Dengan pemberian fasilitas tersebut, diperkirakan produksi serat bisa mencapai 1,5 – 2 ton per hektar. Dengan harga jual Rp 2 juta/ton petani bisa mendapat penghasilan Rp 3 juta – Rp 4 juta/hektar setiap tahun.

Untuk mengatasi kelangkaan bahan baku rosella, Direksi PTP Nusantara X sudah menjalin kerja sama dengan Perum Perhutani. Dalam kerja sama itu Perhutani bersedia menyediakan lahan khusus untuk tanaman rosella yang dikelola petani.

Kurangnya perhatian swasta ini, membuat tanaman kenaf hanya diproduksi untuk melayani kebutuhan industri karung goni. Karung produksi PTPN hanya untuk kemasan gula produksinya sendiri.Untuk PT INS, jelasnya, produksi karung mereka untuk memenuhi pesanan swasta, selain sebagai penghasil produk diversifikasi, seperti geotekstil dan soil saver, karpet, particle board, pelapis dinding dan berbagai kerajinan tangan.

Karung Goni Tak Lagi Prospektif

Seiring dengan waktu, penjualan karung goni pun semakin lapuk dimakan perubahan. Usaha di bidang karung goni pun dipandang tak tidak lagi prospektif sehingga perlu dilakukan re-engering produk. Menyikapi kondisi tersebut serta memperhatikan peluang bisnis yang ada, maka perlu diambil langkahlangkah strategis agar perusahaan dapat tetap berkembang, salah satunya mendirikan pabrik karung plastik bekerjasama dengan mitra strategis yang mempunyai kemampuan dibidang karung plastik.

Perubahan pun tak dapat dihindari jika tetap ingin survive (bertahan hidup). Sesuai dengan kebijakan perusahaan dalam melaksanakan restrukturisasi dan reengenering bidang usaha ke arah kinerja yang lebih baik. Perubahan dan perbaikan itu mencakup aspek operasional maupun keuangan, yang meliputi semua unit usaha dalam hal ini khususnya Unit Usaha Pabrik Karung Goni Pecangaan.

Masih di tahun 2000, rencana pematangan perubahan produksi dari karung goni ke karung plastik terus dilakukan. Beberapa kemungkinan dikaji dengan melibatkan beberapa pihak. Kemudian di tahun 2000 juga direksi dipanggil Menteri Negara BUMN, Sugiharto, di Jakarta. Setelah dipaparkan kondisi yang ada serta kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, Menteri BUMN setuju dengan mengubah pabrik karung Pecangaan menjadi pabrik karung plastik.

Proses selanjutnya adalah melakukan sosialisasi serta persiapan untuk restrukturisasi dan reengineering. Uji kelayakan serta lanskap bisnis juga mulai ditata ulang. Setelah dua tahun berlangsung, di awal 2003 surat keputusan Menteri BUMN keluar, dan disetujui untuk spin-off dari pabrik karung goni menjadi pabrik karung plastik bekerja sama dengan mitra strategis. Hal ini sejalan dengan Master Plan BUMN Tahun 2002 – 2006

PT Perkebunan Nusantara X (Persero) butir 5: Pendirian Industri Karung Plastik. Disamping itu sesuai pula dengan kebijakan perusahaan dalam melaksanakan “Restrukturisasi” dan “Reengineering” bidang usaha ke arah kinerja yang lebih baik mencakup aspek Operasional maupun Keuangan yang meliputi semua Unit Usaha dalam hal ini khususnya Unit Usaha Pabrik Karung Goni Petjangaan.

26 Maret 2003: Menjadi Pabrik Karung Plastik 

Sekali lagi, perubahan besar tak dapat dihindari untuk tetap bisa bersaing. Tanggal 26 Maret 2003, terjadilah perubahan jalur dari pabrik karung goni menjadi pabrik karung plastik. Untuk mewujudkan rencana tersebut, PT Perkebunan Nusantara X (Persero) mengadakan kerjasama dengan PT Surya Satria Sembada mendirikan pabrik karung plastik yang memproduksi waring, karung plastik, dan innerbag. PT Surya Satria Sembada sendiri merupakan gabungan dari tiga perusahaan yang bergerak dibidang karung plastik yang sangat berpengalaman. sehingga yang diharapkan dari kerjasama ini dapat memberikan konstribusi kedua belah pihak, tidak saja dari aspek operasional dan keuangan masing-masing perusahaan tetapi secara makro diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain:

  • Memperluas lapangan kerja.
  • Peran serta dalam pembangunan ekonomi.
  • Menunjang pembangunan ekonomi dari segi pendapatan perkapita.

Sesuai dengan kebijakan perusahaan dalam melaksanakan restrukturisasi dan reengineering bidang usaha kearah kinerja yang lebih baik, mencakup aspek operasional maupun keuangan yang meliputi semua unit usaha dalam hal ini khususnya Unit Usaha Pabrik Karung Goni Pecangaan.

Setelah proses spin-off terjadi kemudian lahirlah PT. Dasaplast Nusantara sebagai anak perusahaan PTPN X, dengan makna Dasa=Sepuluh (dari PTPN X), Plast = Plastik, dan nusantara mengambil bagian nama dari PTP Nusantara yang melambangkan Indonesia.

Dasar pertimbangan pendirian Pabrik Karung Plastik dan Penutupan Pabrik Karung Goni Pecangaan antara lain:

  1. Pemakaian kemasan karung goni untuk beras, gula, kacang-kacangan banyak beralih ke kemasan karung plastik.
  2. Secara higienis karung plastik lebih baik di banding dengan karung goni karena tidak terkontaminasi bau minyak (BOD) maupun adanya serabut serat.
  3. Profit margin dari pabrik karung goni semakin menurun dan cenderung mengalami kerugian yang di sebabkan oleh pangsa pasar yang semakin menurun.

Dengan pendirian Pabrik Karung Plastik dapat diharapkan memperoleh keuntungan (social benefit) antara lain:

  1. Kegiatan Operasional Pabrik tetap berjalan.
  2. Stabilitas ekonomi dan keamanan lingkungan tetap terjaga.
  3. Community Development akan terwujud.
  4. Kesejahteraan Karyawan dan keluar-ganya meningkat.
  5. Penyerapan tenga kerja.
  6. Partisipasi percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah yang bersifat multiplier effects.

Mempersiapkan Mesin dan SDM

Setelah diadakan Studi Kelayakan dan dinyatakan layak untuk dilaksanakan dan diusulkan kepada Pemegang Saham yaitu Menteri Negara BUMN, maka dengan Surat No.: S-375/MBU/2003 tanggal 21 Oktober 2003, Menteri Negara BUMN menyetujui Rencana Pendirian Anak Perusahaan patungan antara PT Perkebunan X (Persero) dengan PT Surya Satria Sembada yang bergerak di bidang industri plastik antara lain karung plastik, innerbag & warring plastik, dengan komposisi saham masing-masing 70% dan 30%.

Setelah itu, untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur utama, akhir Februari 2004, tim PT Dasaplast Nusantara mengunjungi pabrik mesin di Kanpoor, India. Dalam sejarahnya, India memang dikenal sangat ahli di bidang tekstil dan tenun. Setelah melewati negosiasi dan beberapa pertimbangan, maka yang dipilih adalah pabrik mesin Lohia Starlinger.

Persiapan terus melaju. Memasuki bulan Maret 2004, kontrak pengadaan mesin sukses ditandatangani. Kemudian, sebulan berikutnya persiapan disibukkan dengan rehabilitasi bangunan. Bagian-bagian yang kurang memenuhi syarat dibangun kembali.

Memasuki bulan ketujuh, sudah dibuka LC (Letter of Credit) untuk pembayaran mesin. Hanya berselang tiga bulan, mesin-mesin yang dipesan mulai berdatangan dan dilakukan proses penempatan dan setting. Menjelang

pertengahan Desember 2004, proses setting selesai, dan telah siap 77 mesin loom karung, 16 mesin loom waring, 3 mesin extruder 4 mesin blow film, 4 mesin cutting sewing, 4 mesin cutting sealing, serta 4 mesin crash ball.

Selama proses menunggu kedatangan mesin, September 2004 mulai dilakukan training untuk staf pemasaran, staf logistik, staf teknik, mandor teknik, dan kepala teknik. Training karyawan dilakukan di pabrik karung plastik Injaplast, di kawasan Margomulyo (Surabaya)

Tahun pun berganti. Akhirnya, tibalah saatnya yang ditunggu-tunggu; memulai produksi. Tanggal 2 Januari 2005 PT Dasaplast Nusantara memulai produksi pertama karung plastik. Kapasitas awal adalah 25 juta lembar/ tahun.

Meski sudah berproduksi sejak awal tahun, secara formal peluncuran PT Dasaplast Nusantara dilakukan 17 Februari 2005. Launching/ peresmian perusahaan dilakukan oleh Menteri Negara BUMN, Sugiharto. Seremoni ini dilakukan di lingkungan pabrik dan dihadiri oleh sebagian besar direktur PTPN dan wakil gubernur Jawa Tengah.

Setelah itu, PT Dasaplast Nusantara terus melaju. Berjalan lancar di atas rancangan bisnis yang telah dipersiapkan jauh hari. Kesungguhan dan kerjasama yang terjalin menjadi modal dasar untuk terus meningkatkan performa.

Berbagai perubahan telah dilalui, dan kini PT Dasaplast Nusantara bukan lagi sibuk untuk bertahan, tetapi perusahaan ini telah menembus pasar internasional, bertekat terus melaju, dan menjadi yang terbaik di dunia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked